SIT Al Hidayah

Sejarah Yayasan Hidayah Jaya Barokah (SIT Al Hidayah)

Berawal dari Sebuah Niat, Bertumbuh Menjadi Cahaya Pendidikan

"Boleh jadi bangunan ini berdiri di atas tanah, tetapi sesungguhnya ia dibangun di atas doa, perjuangan, dan keikhlasan sebuah keluarga."

Setiap lembaga besar selalu berawal dari sebuah mimpi. Demikian pula Yayasan Hidayah Jaya Barokah lahir, bukan karena ambisi membangun sebuah institusi, melainkan dari sebuah cita-cita yang sederhana namun sangat mulia: menjadikan harta, kehidupan, dan seluruh perjuangan sebagai amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi umat melalui pendidikan.

Perjalanan ini bermula dari kehidupan pasangan suami istri Bapak Sopian bin Muhammad Amin (16 Agustus 1958 – 4 April 2015) dan Ibu Hudaya binti Muhammad Umar Jarusin (4 Maret 1959 – sekarang).

Dalam rumah tangga yang dibangun dengan penuh kesederhanaan, kerja keras, dan keimanan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan empat orang anak, yaitu Leni Sumanti, Fitriyadi, Antoni, dan Rika Septariana.

Semasa hidupnya, almarhum Bapak Sopian dikenal sebagai sosok yang pekerja keras, jujur, ulet, serta tidak mudah menyerah. Melalui usaha dan perniagaan yang dirintis dari bawah, beliau berhasil memperoleh berbagai aset tanah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dengan penuh kesungguhan. Setiap jengkal tanah yang dimiliki bukan sekadar hasil usaha, melainkan buah dari doa, pengorbanan, kejujuran, dan kerja keras yang dilalui selama bertahun-tahun.

Pada tanggal 4 April 2015, Allah Subhanahu wa Ta'ala memanggil almarhum Bapak Sopian kembali ke sisi-Nya. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sekaligus meninggalkan amanah berupa perjuangan hidup dan aset yang telah dibangun dengan penuh kejujuran.

Bagi keluarga, tanah-tanah itu bukan sekadar harta warisan. Di baliknya tersimpan kisah tentang seorang ayah yang bekerja tanpa mengenal lelah demi masa depan keluarganya. Karena itulah, ketika banyak orang memandangnya sebagai aset yang bernilai ekonomi, keluarga justru memandangnya sebagai amanah yang harus diubah menjadi pahala yang terus mengalir.

Beberapa waktu setelah wafatnya almarhum, kawasan Gandus, Palembang, mulai berkembang pesat sebagai salah satu wilayah pengembangan permukiman di pinggiran Kota Palembang. Banyak pengembang perumahan datang menawarkan pembelian lahan dengan nilai yang sangat menjanjikan.

Namun di tengah berbagai peluang tersebut, lahirlah sebuah keputusan yang jauh lebih bernilai daripada sekadar keuntungan materi.

Dengan hati yang tulus, Ibu Hudaya menyimpan sebuah harapan besar. Beliau menginginkan agar seluruh perjuangan hidup almarhum suaminya tidak berhenti sebagai warisan dunia, tetapi berubah menjadi investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir sepanjang masa.

Beliau meyakini bahwa harta terbaik bukanlah yang habis dinikmati, melainkan yang terus memberikan manfaat setelah pemiliknya tiada.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Hadis inilah yang menjadi salah satu inspirasi besar bagi keluarga. Mereka bersepakat bahwa perjuangan hidup almarhum harus dilanjutkan dalam bentuk yang lebih abadi, yaitu menghadirkan lembaga pendidikan Islam yang akan melahirkan generasi saleh, cerdas, dan bermanfaat bagi umat.

Dari niat yang tulus itulah lahir sebuah ikhtiar besar.

Pada tanggal 2 Januari 2020, secara resmi berdirilah Yayasan Hidayah Jaya Barokah.

Nama Hidayah dipilih sebagai doa agar setiap langkah yang ditempuh senantiasa berada dalam petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala, sedangkan Jaya Barokah menjadi harapan agar setiap keberhasilan yang diraih selalu dipenuhi keberkahan dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Amanah besar tersebut kemudian dijalankan oleh keluarga dengan susunan kepengurusan sebagai berikut:

Amanah Yayasan

Susunan Kepengurusan

Pembina Yayasan: Leni Sumanti

Ketua Yayasan: Fitriyadi

Sekretaris Yayasan: Rika Septariana

Bendahara Yayasan: Antoni

Pengawas Yayasan: Hermanto

Tidak lama setelah yayasan berdiri, langkah besar pertama dimulai.

Pada 14 Februari 2020, proses land clearing dilaksanakan di atas lahan bekas kebun rambutan seluas kurang lebih 2.929 meter persegi. Di atas tanah itulah fondasi sebuah cita-cita mulai dibangun.

Belum sempat pembangunan berjalan jauh, dunia dikejutkan oleh pandemi global COVID-19.

Pada bulan Maret 2020, hampir seluruh aktivitas masyarakat terhenti. Dunia pendidikan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Banyak rencana tertunda, pembangunan dihentikan, dan berbagai lembaga mengalami kesulitan.

Namun, bagi keluarga besar Yayasan Hidayah Jaya Barokah, keadaan tersebut bukan alasan untuk berhenti.

Dengan segala keterbatasan yang ada, pembangunan dua ruang kelas pertama tetap dilanjutkan. Setiap pondasi yang dicor, setiap bata yang disusun, dan setiap dinding yang berdiri menjadi saksi bahwa harapan tidak boleh kalah oleh keadaan.

Tidak hanya pembangunan fisik, proses penerimaan murid baru juga tetap dilaksanakan dengan penuh optimisme, doa, dan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membuka jalan bagi setiap ikhtiar yang dilakukan dengan ikhlas.

Pada tahun pertama, tercatat 25 calon murid mendaftarkan diri.

Dari jumlah tersebut, 17 murid melakukan daftar ulang dan resmi menjadi angkatan pertama SDIT Al Hidayah.

Jumlah yang mungkin terlihat kecil, tetapi justru menjadi awal dari sejarah besar.

Mereka bukan sekadar murid pertama.

Mereka adalah pelopor, generasi pembuka yang akan selalu tercatat sebagai bagian dari sejarah berdirinya SIT Al Hidayah.

Perjalanan pendidikan pada masa awal bukanlah perjalanan yang mudah.

Demi menjaga keselamatan seluruh warga sekolah, kegiatan belajar mengajar tatap muka hanya dapat dilaksanakan dua kali dalam sepekan, dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Guru mengajar dengan penuh dedikasi.

Orang tua mendampingi dengan penuh kesabaran.

Anak-anak belajar dengan semangat yang luar biasa.

Seluruh keluarga besar sekolah saling menguatkan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Hingga akhirnya, pada September 2020, atas izin Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dukungan penuh para orang tua melalui surat pernyataan bermaterai, kegiatan belajar mengajar dapat kembali dilaksanakan secara tatap muka selama lima hari dalam sepekan.

Momentum tersebut menjadi titik kebangkitan sekaligus awal pertumbuhan SDIT Al Hidayah.

Perjalanan Yayasan Hidayah Jaya Barokah membuktikan bahwa lembaga besar tidak selalu lahir dari modal yang besar.

Ia lahir dari niat yang lurus, pengorbanan yang tulus, doa yang tidak pernah putus, serta keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk membangun peradaban.

Dari sebuah kebun rambutan…

Menjadi dua ruang kelas sederhana…

Menjadi sekolah yang terus bertumbuh…

Hingga kini berkembang menjadi Sekolah Islam Terpadu Al Hidayah (SIT Al Hidayah) yang menaungi berbagai jenjang pendidikan.

Semua itu berawal dari satu keluarga yang memilih mengubah warisan menjadi wakaf, mengubah harta menjadi amal jariyah, dan mengubah perjuangan hidup menjadi cahaya pendidikan bagi generasi penerus.

Insya Allah, perjalanan ini akan terus berlanjut.

Dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dukungan masyarakat, serta kerja keras seluruh guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan para pejuang pendidikan, SIT Al Hidayah akan terus melahirkan generasi pemimpin yang saleh, cerdas, berkarakter, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, serta masyarakat.

Penutup

Moto Perjuangan Yayasan

"Membangun Peradaban dengan Ilmu, Menanam Kebaikan untuk Kehidupan, dan Menghadirkan Amal Jariyah yang Terus Mengalir Sepanjang Zaman."

Semoga setiap langkah, setiap ilmu yang diajarkan, setiap anak yang dididik, dan setiap kebaikan yang lahir dari Yayasan Hidayah Jaya Barokah menjadi pahala yang terus mengalir bagi para pendirinya, para pewakaf, seluruh pengurus, guru, tenaga kependidikan, orang tua, serta semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjuangan mulia ini. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Hubungi Admin SPMB
Admin TK Admin SD Admin SMP